Secuil Nilai, Sepotong Maaf

gue baru ngalamin Rapat Berdarah Jilid II pada hari Selasa, 14 Maret 2005…di rapat panitia tablo bersama sang moderator kaum muda itu membahas perihal kasus stipendium pelatih dan make-up KOMA yang SIJI ajukan di proposal…

jadi sang moderator ga menyetujui stipendium platih dengan alasan, sang platih adalah orang dalam dan mnurut gue juga, rada ga make sense juga sih kalo SIJI sendiri yang ngajuin tablo tapi trus minta bayaran ke platih…soal ini, kami, tim produksi, sudah sepakati sebelom datang ke rapat itu bahwa masalah stipendium kami stuju dengan sang moderator…(yeah!)

perihal makeup yang mengimpor penata make-up dari KOMA, sang moderator menegaskan bahwa beliau tidak setuju dengan alasan: make-up tidak terlalu penting, yang penting adalah penghayatan pemain kepada peran2 yang dimainkan dan juga penghayatan kepada naskah…yang kedua adalah sang pnata make-up beragama non-Katolik yang mungkin tidak bisa menghayati naskah secara mendalam…(awas kelelep!)

pada rapat itu, kami, SIJI, melemparkan berbagai argumen2 tetapi sang moderator dengan mudah mematahkan setiap argumen2 kami…kami, anak2 muda yang emosional menyikapi alasan moderator tersebut dengan pandangan sempit dan sikap naif…(mengapaaaa…aku beginiiiiii….)

di penghujung rapat, sang moderator memberikan pilihan: maju terus atau bila ada sakit hati maka lebih baik mundur…maka gue, johan, dan rolan sebagai wakil dari SIJI rehat sebentar untuk mendiskusikan secara dewasa…kami sempat menyatakan sikap untuk mundur tetapi saat kami berunding tersebut terbersitlah pandangan wajah2 para pemain2 baru yang penuh dengan niat dan semangat untuk tampil, kerja keras para tim produksi: cape2 ke bona buat minjem scara paksa baju2, properti dan sebagainya, udah gitu pulangnya ujan2an lagi…maka atas nama pengorbanan mereka2 semua, maka kami bertiga pun (sekali lagi) berkorban atas keegoisan kami, untuk terus maju dalam mementaskan kisah sengsara ini…dengan mengesampingkan segala macam sakit hati dan kekecewaan..(haleluyah!)

ada suatu nilai dibalik nilai, makna dibalik makna, yang gue dapatin duapuluh jam semenjak rapat itu…(thx for Johan) bahwa ada suatu pandangan yang berbeda dan dalem (baca: deep, ngena, nancep, njleb, pokoke yang sebangsa deh!) dari sang moderator yang tidak bisa kami tangkap pada rapat itu berlangsung, karena gue, khususnya, membentengi diri dengan senjata manusia yang paling menghancurkan di seluruh dunia : EMOSI…(pasti lo pada terharu deh mbacanya! yakin gue!!)

nilai2 tersebut yang bisa gue tangkep adalah:
kita ga bisa selalu dapetin apa yang kita mau - kita musti nerima apa adanya…
pengorbanan…kami bertiga (sekali lagi) mengalah dan berkorban (lagi) untuk mengendapkan keinginan2 yang tidak bisa terwujud…dan nilai yang satu ini adalah nilai yang paling penting, paling esensial, dan paling susah dicari dan ditemukan di perjalanan hidup yang penuh dengan hambatan dan rintangan ini…(amien sodara-sodara! sodara-sodara amien!)

ternyata gue tidak sedewasa yang gue kira…

so, buat smuanya yang udah gue kecewakan dan udah gue buat untuk mencap diri gue sebagai seorang yang emosional dan naif, emank kata ini adalah kata yang paling mudah skaligus paling sulit untuk diucapkan…MAAF…(hiks..hiks…sroooottttt)

pesan moral: emosi sesaat itu wajar dan manusiawi…tapi lebih indah lagi kalo lo bisa nyadar kesalahan lo dan sekaligus dapetin nilai2 positifnya…amien?

-inspired by Johan-

NB: sebelom ini, pas sesudah gue pulang dari Rapat Berdarah Jilid II tersebut, gue, dengan penuh emosi, udah terlanjur nulis post: Pendiskreditan, Miss Communication, dan Blog Didalam Rapat (Lagi)…bagi yang udah terlanjur mbaca, lupain aja deh…bato jadikan sebagai pengalaman atau sekedar bahan perbandingan…srius deh…gue bener2 nyesel nulis dan publishnya…sumpah…bahwa gue terlalu naif dan emosional pas nulis itu…so guys…sori banget…eh, hepi beday for my bokaps!! en Toto!! hauehuaheuaheauheauea….(tertanggal 16 Maret 2006)

2 Responses to “Secuil Nilai, Sepotong Maaf”

  1. Joe Says:

    Don’t know what to say anymore…lebih kurang kata2 gw dah disampaikan sama loe mo..Tapi memang, ini semua adalah suka duka dari sebuah pelayanan yang total…Sekaligus sebuah pembelajaran ke arah yang lebih baik, pribadi yang lebih dewasa dimana keinginan dan ambisi pribadi menjadi sangat tidak penting dibanding nilai2 pengorbanan dan semangat pelayanan…
    MAAF menjadi sebuah kata yang absurd ketika sebuah kebenaran dipertanyakan..Namun semua kembali kepada kesadaran akhlak dan hati nurani orang tersebut…ketika MAAF sungguh diucapkan dari hati..Saat itulah seluruh mata akan tertuju padanya dan bertanya..”Sebenarnya..Siapakah yang salah ???”

  2. DenNIE Says:

    lu yakin lu bner mo??
    sip la…akirnya ktemu juga rasa terbaru dari pengorbanan?ato??

    kalo korbanin gebetan lu buat orang rasanya gimana mo???hahaha..,kiddin…

    Man kann nicht alles auf einmal sehen was man uberhaupt sehen soll.es dauert…

Leave a Reply