…And Ideas Are Bulletproof
Remember, remember! The fifth of November!
Begitulah tagline dari film V for Vendetta yang dibintangi oleh Hugo Weaving dan Natalie Portman. Sebuah film yang bercerita tentang sebuah rezim yang terkamuflase secara rapi dalam suatu negara. Sebuah film yang bercerita tentang bagaimana seseorang mencoba untuk membongkar rezim itu dan menegakkan kembali kebenaran dan kebebasan. Sebuah film yang bercerita bagaimana cara menumbangkan suatu rezim bukanlah dari pihak luar tetapi dari dalam rezim itu sendiri. Sebuah film yang bercerita bagaimana sebuah idea yang lebih kuat dari apapun juga, termasuk nyawa manusia. Sebuah idea yang tak lekang oleh waktu. Sebuah idea tentang kebenaran yang diperjuangkan oleh seseorang dan semua orang. Sebuah idea yang bisa merealisasikan peribahasa: mati satu, tumbuh seribu.
Remember, remember, the fifth of November, The gunpowder treason and plot. I know of no reason why gunpowder treason should ever be forgot.
Berlatar belakang Inggris pada era ketotalitarian, V for Vendetta menceritakan bagaimana seorang wanita yang bernama Evey (Portman) yang diselamatkan oleh sosok misterius bertopeng Guy Fawkes. Dan pada malam itu, malam menuju tanggal 5 November, sebuah revolusi untuk menumbangkan rezim Kanselir yang penuh dengan kekejaman dan korupsi telah dimulai, dengan V yang meledakkan salah satu gedung bersejarah di London. Dan V berjanji bahwa tanggal 5 November tahun depan, sebuah dunia baru dan lebih baik akan terwujud. Maka selama setahun itu, V pun memulai propagandanya dan dibantu oleh Evey. Dimulai dengan membunuhi pejabat-pejabat tinggi pemerintahan yang mempunyai pengaruh yang kuat, dilanjutkan dengan mencari dukungan kepada rakyat untuk melawan tirani kekuasaan dengan cara menyabotase stasiun TV terkenal untuk menyebarkan video propagandanya. Hasilnya tak sia-sia, rakyat pun mulai untuk membuka matanya. Sedikit demi sedikit, rakyat pun mulai mengikuti arah pikiran V. Propaganda dilanjutkan dengan menyebarkan kostum V kepada seluruh rakyat. Maka tibalah tanggal 5 November berikutnya. Sebuah revolusi yang ada di depan mata. V pun mengakhiri “masa tugasnya” dengan rapi dan pengorbanannya pun tak sia-sia. Rakyat yang berkostum V berduyun-duyun mendatangi Gedung Parlemen untuk menyaksikan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Mati satu, tumbuh seribu.
The only verdict is vengeance, a vendetta, held as a votive not in vain.
Film ini hanyalah sebuah cerita sarkastik yang menggambarkan bagaimana sebuah idea tentang kebenaran bisa menumbangkan apapun. Bagaimana sebuah idea tak hanya dimiliki oleh satu orang saja. Bagaimana sebuah idea yang lebih dari sekedar daging dan darah. Dikemas secara apik oleh pembuat The Matrix Trilogy, Wachowski bersaudara cukup cerdas untuk memainkan jalan cerita dengan menyisipkan kritik-kritik politis. Ciri khas dari Wachowski bersaudara pun nampak di film ini. Kalau di The Matrix ada adegan alur peluru yang diperlambat, maka di V ada adegan dimana V melempar pisaunya dan ditampilkan secara slow-motion. Dan karakter V ditampilkan cemerlang oleh Hugo Weaving. Dengan gaya bicaranya yang khas (ingat Agent Smith dalam The Matrix), seakan menegaskan kemisteriusan di balik topengnya. Lalu ada hal yang menarik disini, ingat The Matrix saat Agent Smith memperbanyak dirinya? Di penghujung film V For Vendetta pun terdapat adegan dimana semua orang memakai topeng yang sama yang dipakai oleh V. Agent Smith dan V.
People should not be afraid of their governments, governments should be afraid of their people.
Walaupun didukung oleh sinematografi yang apik, special effect yang canggih, serta kekuatan naskah yang tinggi, namun sayang karakter-karakter dalam film ini tidak menampilkan logat Inggris yang khas. Film yang berlatar belakang Inggris ini kurang diperkuat oleh aksen Inggris bagi para pemain-pemainnya.
Film ini bukanlah suatu film superhero biasa. Film ini mencoba menyampaikan sebuah pesan kepada para penontonnya yang diramu dalam sebuah kisah heroik yang unik. Sebuah cerita yang unik tentang kebebasan, kebenaran, dan idea yang diperjuangkan. Bahkan sampai darah penghabisan. Dan bagaimana sebuah idea yang tidak hanya milik satu orang saja melainkan menjadi milik bersama dan selalu diwariskan serta diperjuangkan.
Behind this mask is a man, and behind this man is an idea. And ideas are bulletproof.